Showing posts with label Syair. Show all posts
Showing posts with label Syair. Show all posts

October 12, 2015

Kurang 999.998 Puisi Lagi.

Hai, maaf bila kau terganggu dengan segala puisi tentangmu.
Aku cuma rindu, namun cukup sadar diri untuk tidak mengajakmu bertemu.
Baru saja aku melihat Instagrammu, lalu patah hati aku.
Tak seharusnya aku merasakan rasa iri yang teramat sangat seperti itu.

Dia punya kamu, orang yang sangat aku sayang sejak beberapa waktu lalu.
Dia bisa menyentuhmu kapanpun dia mau, dia tak perlu menunggu seperti aku.
Tak perlu menunggu lama untuk bisa bertemu denganmu.
Dia tak perlu bermimpi seperti aku, hanya demi bisa melihat langsung paras tampanmu.
Atau untuk bisa menciummu selama yang aku mau.

October 6, 2015

Kurang 999.999 Puisi Lagi.

Aku buat untuk kamu yang sedang tidak berada dalam kota yang sama,

Bagaimana kabarmu disana? Masih mencoba berpura-pura bahagia?
Ketika dia yang kamu sayangi setengah hidup meninggalkanmu dengan laki-laki lain yang lebih punya segalanya.
Bagaimana rasanya? Setengah hidup yang kamu perjuangkan mati-matian, membalasmu dengan perlakuan yang demikian.
Jahat rasanya jika aku tertawa, namun kau pun memperlakukan aku dengan cara yang sama.

Kenapa? Tidak terima?
Kenapa harus tidak terima? Biar ku ingatkan kenapa aku bisa tertawa bahagia ketika kamu tidak lagi bisa bersamanya.
Kenapa juga aku masih bisa tersenyum padahal kamu yang aku sayangi sedang terluka.
Masih ingat beberapa waktu lalu? Ketika aku ingin berusaha membahagiakanmu, kau dengan tegas menolakku.
Dengan segala caramu, kau tak begitu hiraukan aku.
Dipikiranmu hanya ada dia, hanya ada bagaimana cara membuatnya kembali ke pelukanmu seperti dahulu kala.
Tanpa peduli, bagaimana perasaanku saat itu. Aku baik-baik saja, atau terluka.

December 20, 2014

Surat Elektronik Untuk Kamu.

Surat elektronik untuk kamu, yang sampai detik ini aku rindu dan sungguh aku ingin bertemu.
Apa kabar? Salam hangat dan sayang selalu dari aku.
Yang diam-diam masih mencintaimu, mungkin melebihi perempuan manapun di hidupmu, kecuali ibu.
Yang doa-doanya tak pernah mengalpakan namamu.
Yang selalu ingin tahu berita terbaru tentangmu, meski tak ada lagi kamu di semua sosial mediaku.

Apa kamu masih seperti yang dulu?
Yang suka mengobrol denganku tentang apapun hingga lupa waktu.
Aku ingat selalu, segala-segala yang kau lakukan ketika kita duduk berdua. Ya, hanya kau dan aku, yang lain kita anggap tidak ada saat itu. 
Lalu, apa wangi rambutku masih jadi favoritemu?
Tidak akan lepas dari ingatanku, kamu yang suka melihatku cemberut setelah kamu mengacak-acak rambutku.

Momen favoritku masih sama dari beberapa waktu yang lalu.
Menyandarkan kepala di dadamu yang tak bidang memang, namun cukup untuk menenangkanku.
Atau menghamburkan diri di hangat pelukmu sambil sedikit menjinjitkan kakiku.
Dan tak lupa setelahnya, kau selalu mengecup lama keningku.

November 8, 2014

Kamu, Baik-Baik Ya.

Teruntuk kamu yang jauh disana.
Kamu, yang membuat rasa rinduku berlipat ganda.
Kamu, yang selalu bisa membuatku tertawa meski hanya dari kejauhan saja.
Kamu, yang paling bisa meredam amarah yang kadang meraja.
Kamu, yang paling tahu apa yang aku mau bahkan kadang sebelum aku meminta.

Yang pelukannya paling aku inginkan saat ini juga.
Dan kamu tahu? Membaui wangi tubuh dan parfummu bagiku adalah candu.
Tak bisa pula aku melewatkan barang semalam pun untuk tak mendengar suaramu.
Suara yang memang tak ada bagus-bagusnya, tapi mau apa? Aku suka.
Buatku, tentangmu tak pernah ada habis perihalnya.

Segala tentangmu buatku itu berharga.
Memang tak lebih dari nyawaku, atau pun setengahnya, aku harus tetap menggunakan logika.
Karena Sayang, jatuh cinta tak akan ada tantangannya bila menggunakan hati saja.
Kamu yang membuatku tak sabar menunggu Natal tiba.
Karena begitu Natal tiba, mungkin aku bisa memeluk dan menciummu selama yang aku mau.

October 6, 2014

Tak Pernah Kau Alpa.

Setiap hari aku jatuh cinta dengan orang yang sama.
Orang yang sampai sekarang otakku sendiri menolak untuk lupa.
Adalah dia. Bukan lagi bocah, remaja, tapi juga belum bisa disebut pria dewasa.
Meski aku tak pernah tak mencintainya, dimataku pun ia bukan sosok sempurna.
Masih ada cela disana-sininya, namun buatku itu bukan apa-apa.
Aku tahu gunanya celah itu dibiarkan tetap ada, agar aku bisa melengkapinya.

Kita memang tak lagi berdua, tapi bukan berarti kita tak boleh untuk sama-sama mencicipi bahagia.
Bahagiaku dengan bahagiamu sungguhlah berbeda.
Bahagiaku cukup ketika melihat kamu berbincang-bincang dengan temanmu disana, meski hanya lewat sosial media.
Aku tak tahu bahagiamu sekarang seperti apa, semoga aku masih menjadi alasannya.

Syukurnya, jarak yang ada tak pernah mengalpakan namamu didalam doa.
Untuk saat ini setidaknya. Untuk nanti, jangan ditanya.
Jika akulah yang memang diijinkan untuk menggenapkan ganjilmu, Tuhan pasti sudah memikirkan masak-masak semuanya.
Jika bukan, sedih pastilah ada, namun kau dan aku pastinya tahu jika Tuhan Maha Segala.

October 4, 2014

Gara-Gara Kamu, Gan!




Halo kamu yang disana, yang mencuri perhatian dengan segala gerak-geriknya.
Apa kabarmu? Kuharap kau selalu baik-baik saja.
Pun aku disini baik-baik saja, jika kau juga bertanya-tanya.
Lama kita tak bersua, terakhir kali memang aku yang menolak bertemu denganmu jika tak lupa.
Bukan aku tak lagi cinta, cuma aku tak akan pernah rela.
Melihatmu untuk terakhir kali dan kemudian menjadi bukan siapa-siapa.

Maafkan diriku yang masih belum bisa lupa.
Kepala mungkin bisa melupa dengan mudahnya, tapi hati? Sepertinya ia butuh waktu lebih lama.
Maafkan diriku bila apa yang kubuat untukmu, mulai dari tweet sampai postingan di blog mengganggu dan kau tak suka.
Abaikan saja, kau sudah ahli bukannya?
Kau yang lebih bisa, menyimpan rapat-rapat dan mengabaikan semuanya.
Entah itu hanya pura-pura, atau memang mudah sekali bagimu menghapus luka.
Namun jujur, ku harap itu hanyalah pura-pura saja. Dan masih ada aku dalam kamu, baik di hati maupun kepala.

September 21, 2014

Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh (Ferre Poems)

Engkaulah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak berujungku mengenal hidup.
Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam cinta tak bermuara.
Engkaulah matahari Firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara.

Kau hadir dengan ketiadaan. Sederhana dalam ketidakmengertian.
Gerakmu tiada pasti. Namun, aku terus disini. Mencintaimu.
Entah kenapa.

(Catatan pada suatu pagi buta di atas atap rumah tetangga)

-------------------------------------------------------------------------

Putri, kembalilah ke Puri ini.
Satu semesta mungil yang mampu melumat bumi kalau aku mau membentangkannya.
Inilah nirwana yang mampu menampung perasaan kita.
Bumi punya langit sebagai jendela terhadap galaksi mahaluas yang berjaya dalam misteri.
Jendelaku adalah carik-carik kertas --- berisi daftar pertanyaan tentang dunia yang tak akan habis dimengerti.
Bumi menggetarkan nyali dengan palung-palung dalam.
Aku cuma punya beberapa piringan hitam --- laut pribadiku yang di dalamnya selalu ada kamu, dan kamu lagi.
Samudra kata terbelit musik dan diurai kenangan. Didalamnya aku bisa berenang selama ikan.
Bumi adalah sebuah kumparan besar yang melingkarkan semua makhluk dalam kefanaannya.
Melingkarkan engkau dan aku.

------------------------------------------------------------------------

Aku kangen kamu. Kangen ketidakpercayaanmu. Pesimismemu. Namun, kau pilihanku.

------------------------------------------------------------------------

Aku mencintaimu sepenuh hati, Putri.
Tak peduli lagi tepat atau tidak. Tak peduli kau menyadari aku hilang atau tampak.
Tak peduli kau bahagia dengan diriku atau cuma dengan sel otak.

------------------------------------------------------------------------

Dulu aku adalah pujangga. Seorang arwah pujangga tersasar masuk ke dalam tubuh mungilku.
Dulu aku berkata-kata bak mutiara nan wangi. Dan, mutiara sangatlah aneh di tengah batu kali.
Pikiranku bagai seribu persimpangan dalam sekotak korek api.
Karena itulah aku anomali.

------------------------------------------------------------------------

Karena ini ia dinamakan si jantung hati.
Memompa lembut seperti angin memijat langit.
Berdenyut lincah seperti buih yang terus berkelit.
Dan, darah cinta adalah udara, dengan roh rindu yang menumpang lewat di dada.

------------------------------------------------------------------------

August 31, 2014

Ternyata Bukan.

Kukira kau adalah rumah, tempat aku bisa dengan tenang merebah.
Tempat yang bisa menerimaku ketika aku sedang menang maupun kalah.
Tempat dimana sepulang kerja, akan selalu ada peluk hangat penghilang lelah.
Tempat dimana akan aku temukan senyum pelenyap semua gundah dan resah.
Tempat berbagi segala kisah, bukan hanya desah maupun kesah.
Tempat tak akan pernah kupedulikan semua ghibah.
Tak perlulah yang megah, cukup dada bidangmu yang gagah.

Kukira kau adalah rumah, tapi, ah entahlah.
Ternyata bukan tempatku pulang, hanyalah tempat singgah, aku salah.
Jalan untuk kita pulang pun, Sayang, ternyata berbeda arah.
Apa yang kau inginkan, kejarlah. Hingga mungkin nanti kau temukan yang searah.
Ketika kita mendahului kehendak Illah, kini yang ada hanyalah sudah.
Bergembiralah dan tersenyumlah, cukup aku saja yang rasakan jengah.








#nowlistening Raisa - Apalah Arti Menunggu?
So long Sunshine, jika memang maumu jalan kita pulang tak mengenal kata berbalik arah, aku pasrah. :)
Namun jika Tuhan berbaik hati mengembalikan semuanya ketika sudah tidak ada lagi masalah, kita bisa apa? Entah.

July 10, 2014

Halo, Kamu!

Halo, kamu! Yang saat ini sukses mengambil alih pikiran dari kerjaan dan tugas akhirku.
Halo, kamu! Yang ternyata bisa dengan mudah menggantikan dia di hatiku.
Maaf aku tak seromantis yang kamu mau, tapi inilah aku.
Akan kucintai kamu meski aku tak sering mention ke akun Twitter atau jadi friend di Facebookmu.
Akan kucintai kamu dengan segala kekurangan dan kelebihanmu, sebisaku.
Tapi tenanglah, akan kuusahakan bahwa sebisaku tak akan pernah sama dengan sebisanya mantan-mantanmu.

Dan ya, dia hanyalah masa laluku, tak perlu kau terlalu khawatir akan hal itu.
Fokuskan pikiranmu hanya tentang kita, bukan melulu tentang dia. Ya, hanya tentang aku dan kamu.
Buatku dia bukanlah apa-apa, hanyalah penggalan cerita dihalaman buku lama yang harus ditutup begitu saja.
Tak seperti kamu, yang membuatku berani menuliskan cerita tentang kita didalam satu bab yang benar-benar baru.
Bab dimana kita sendiri yang akan ciptakan kisah-kisah untuk kita kenang nanti. Hanya aku dan kamu, tanpa sedikitpun ada tentang mantanmu atau mantanku.